Senin, 22 Februari 2010

“ Georg Simmel ”

Oleh : Wenny liztia

Topik : Georg Simmel

A. Bagaimana konteks biografi dan sosial dari Georg Simmel?Jelaskan secara singkat!

B. Bagaimana munculnya masyarakat?

C. Apa beda hubungan Diad dan Triad? Bagaimana dengan hubungan kelompok keempatan dan seterusnya?

A. Bagaimana konteks biografi dan sosial dari Georg Simmel? Jelaskan secara singkat!

Konteks biografi :

Georg Simmel lahir di Berlin pada tahun 1858 dari keluarga Yahudi yang kaya raya. Walaupun ayahnya meninggal dunia pada saat Simmel masih kecil ia tetap dapat hidup enak dan tidak kekurangan materi sedikitpun karena ayahnya telah menitipkan harta peninggalannya kepada kerabatnya untuk Simmel.

Simmel menempuh pendidikan tinggi di Univ. Berlin dan memperoleh gelar Doctor pada tahun 1885. Memang jika dilihat dari kemampuannya, Simmel adalah seoarang pemuda yang sangat pintar dan cemerlang dalam hal pemikiran-pemikirannya.

Konteks sosial :

Georg Simmel hidup dalam keadaan sosial Jerman yang bergejolak. Selama akhir abadke-19 Jerman mengalami suatu perkembangan yang meledak dalam bidang industri kapitalis, serta urbanisasi yang meningkat dengan pesat. Berlin adalah suatu puast kegiatan ekonomi dan perdagangan. baik kelas borjuis maupun kelas proletariat meluas dengan pesat. Namun demikian, suasana politik Jerman sangat mencerminkan nilai-nilai aristokrasi semi feodal dan ideal disiplin militer Prusia. Kedudukan kaum buruh yang semakin baik diimbali dengan berbagai usaha kesejahteraan, tetapi pada umumnya struktur sosial ditandai oleh suatu perbedaan antara etos kapitalis yang sedang muncul dalam bidang ekonomi dan seperangkat ideal prakapialis dalam bidang politik.

Dalam kondisi seperti ini, Simmel tidak mau terlibat dalam bidang politik, kalaupun ia berbicara tentang masalah sosial politik atau ekonomi, itu hanya digunakannya untuk menggambarkan pokok-pokok pemikiran teoritisnya yang umum. Keterlibatan simmel berakhir dengan pecahnya perang dan ia menjadi seorang nasionalis yang penuuh gairah. Coser mengemukakan bahwa ketidakmampuannya untuk mempertahankan pendirian yang tidak memihak merupakan reaksi terhadap korban menginalitas dan sikap objektif yang secara psikologis menumpuk.

Meskipun Simmel menolak model masyarakat yang bersifat organik dalam hal tertentu ia dipengaruhi oleh model evolusi Spencer mengenai kompeksitas sosial yang semakin bertambah. Evolusi ini berusaha menjelaskan perubahan masyarakat secara bertahap dari suatu struktur yang sederhana dengan diferensiasi yang rendah dan sangat homogen, kesuatu struktur yang lebih kompleks dengan diferensiasi serta heterogenitas yang tinggi. Publikasi Simmel yang pertama berjudul “On social differentiation” menjelaskan dasar-dasar pembentukan kelompok yang berubah dan keterlibatan sosial dari individu.

Yang banyak memberikan pengaruh pada Simmel adalah seorang ahli filsafat Jerman yang bernama Immanuel Kant. Kant mengembangkan suau perspektif filosofis yang didasarkan pada pembedaan antara persepsi manusia mengenai gejala dan hakikat dasar dari benda-benda seperti mereka berada dalam dirinya sendiri. ia memperlihakan bahwa kita tidak pernah dapat mengetahui benda seperti benda itu berada dalam dirinya sendiri, tetapi hanya karena mereka muncul menurut kategori-kategori kesadaran atau pikiran tertentu yang bersifat a priori. Menurut Kant ada kategori pikiran fundamental tertentu yang bersifat a priori (ruang, waktu, sebab dan seterusnya) yang tidak didasarkan pada rangsangan inderawi tetapi membentuk kesadaran subjektif kita akan dunia empiris diluar kita.

Begitu Simmel menerapkan model berfikir ini tentang kenyataan sosial, ia menyadari bahwa perkembangan pengetahuan sosiologi meliputi lebih daripada hanya sekedar mencatat hukum-hukum universal yang jelas tersingkap oleh data empiris. Sebaliknya pikiran manusia dalam menjalankan fungsi memilih, mengorganisasi pada waktu menginterpretasikan data empiris, ia menggunakan kriterianya sendiri dalam proses ini yang tidak terdapat dalam fakta empiris itu sendiri.

Simmel juga menganalisa konflik dialektik antara bentuk-bentuk sosial yang sudah mapan yang tercermin dalam institusi-institusi yang ada dan pola-pola budaya serrta proses hidup itu sendiri yang secara terus menerus harus menciptkan bentuk baru bagi pengungkapannya sendiri. Perhatian Simmel tidak hanya pada sosiologi, ia menulis banyak hal dan member kuliah dalam bidang filsafat, etika, sejarah, kritik budaya umumnya , seni dan kritik sastra khususnya.

B. Bagaimana munculnya masyarakat

Munculnya masyarakat menurut Simmel dikenal dengan istilah vergesellschaftung yang secara harfiah berarti “proses terjadinya masyarakat”, atau disebut juga dengan istilah “Sosiasi” (sociation). Jadi munculnya masyarakat terjadi karena adanya interaksi timbal balik yang mana dalam proses tersebut individu akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi.

Masyarakat lebih daripada jumlah individu yang membentuknya lalu ditambah dengan pola interaksi timbal balik dimana mereka saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Akan tetapi masyarakat tidak akan pernah ada sebagai suatu benda objektif yang terlepas dari anggota-anggotanya. Kenyataan itu terdiri dari kenyataan proses interaksi timbal balik. Pendekatan ini mengusahakan keseimbangan antara pandangan nominalis (yang percaya hanya pada individu yang rill) dan pandangan realis atau teori organik (yang mengemukakan bahwa kenyataan sosial itu bersifat independen dari individu yang membentuknya).

Contoh terbentuknya masyarakat menurut Simmel, misalnya sejumlah individu yang terpisah satu sama lain atau berdiri sendiri-sendiri saja, yang sedang menunggu dengan tenang di terminal lapangan udara tidak membentuk jenis masyarakat atau kelompok. Tetapi kalau ada pengumuman yang mengatakan bahwa kapal akan tertunda beberapa jam karena tabrakan, beberapa orang mungkin mulai berbicara dengan orang disampingnya, dan disanalah muncul masyarakat. Dalam hal ini masyarakat (sosietalisasi) yang muncul akan sangat rapuh dan semetara sifatnya, dimana ikatan-ikatan interaksi timbal baliknya itu bersifat sementara saja.

Proses munculnya masyarakat sangat banyak macamnya, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing ditempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim atau hubungan keluarga. Tanpa memandang tingkat variasinya, proses sosiasi ini mengubah suatu kumpulan individu saja menjadi satu masyarakat (kelompok / sosiasi). Masyarakat ada pada tingkat tertentu dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.

C. Apa beda hubungan Diad dan Triad? Bagaimana dengan hubungan kelompok keempatan dan seterusnya?

Adapun yang membedakan antara hubungan diad dan triad adalah jumlah orang yang terlibat dalam interaksi tersebut. Seperti yang dikemukakan oleh Simmel begitu jumlah orang yang terlibat dalam interaksi berubah, maka bentuk interaksi merekapun berubah dengan teratur dan dapat diramalkan.

Diad :

Bentuk duaan memperlihatkan ciri khas yang unik sifatnya yang tidak terdapat dalam satuan sosial apapun yang lebih besar. Hal ini muncul dari kenyataan bahwa masing-masin individu dikonfrontasikan oleh hanya seorang yang lainnya, tanpa adanya suatu kolektivitas yang bersifat superpersonal (suatu kolektivias yang kelihatannya mengatasi para anggota individu). Oleh karena itulah pengaruh yang potensial dari seseorang individu terhadap satuan sosial lebih besar daripada dalam tipe satuan sosial apapun lainnya. Dilain pihak, kalau seseorang individu memilih untuk keluar dari suatu kelompok duaan maka satuan sosial itu sendiri akan hilang lenyap. Sebaliknya, dalam semua kelompok lainnya, hilangnya satu orang anggota tidak ikut menghancurkan keseluruhan satuan sosial itu.

Keunikan bentuk duaan yang lain adalah dengan adanya istilah berdua itu sepasang, bertiga menjadi kerumunan (two is company, three is a crowd). Semua orang percaya bahwa rahasia dapat dijaga oleh satu orang, dan tidak lebih dari itu. Karena setiap orang dalam kelompok duaan hanya berhadapan dengan satu orang saja, maka kebutuhan tertentu, keinginan dan karakteristik pribadi dari teman lain itu dapat ditanggapi dengan lebih sunguh-sungguh daripada yang mungkin dapat dibuat dalam kelompok yang lebih besar. Akibatnya, hubunga duaan menjadi intim dan unik secara emosional yang tidak mungki terjadi dalam bentuk sosial lainnya. Hal ini menimbulkan sifat yang ekslusivistik kepercayaan bahwa kehidupan yang dihayati oleh dua orang tidak dapat dihayati bersama orang lain, dan tidak ada hubungan lain yang memiliki tingkat kekayaan emosional yang sama dengan itu.

Hubungan duaan tidak selalu disertai oleh perasaan-perasaan positif. Dalam situasi konflik, apapun masalah dan sebab musababnya, hubungan yang sangat intim seringkali membuat konflik malah menjadi lebih parah. Masalah konflik yang kelihatannya sepele bagi orang luar, ditanggapi dengan sangat emosional. Sesungguhnya keterbukaan mereka satu sama lain pada tingkat kepribadian yang sangat dalam membuat mereka mudah saling menyerang yang berhubungan dengan masalah kepribadian ini.

Triad :

Triad disini diartikan sebagai pihak ketiga. Salah satu pokok pikiran Simmel yang terkenal adalah diskusinya mengenai berbagai peran yang dapat dilakukan oleh pihak ketiga. Peran-peran ini yang tak mungkin kita temukan dalam bentuk duaan, meliputi penengah, wasit, tertius gaudens (pihak ketiga yang menyenangkan) dan orang yang memecah belah dan menaklukan (divider and conqueror). Dalam berbagai situasi, peran penengahlah yang muncul karena ikata antara kedua anggota dalam bentuk duaan itu didasarkan terutama pada hubungan mereka bersama pada pihak ketiga. Artinya, ikatan duaan bersifat tidak langsung. Misalnya, hubungan antara seorang ibu mertua dengan menantu perempuan didasarkan pada hubungan bersamanya dengan anak-suami yang mempunyai hubungan dengan keduanya secara terpisah. Namun dalam banyak situasi lainnya, kedua anggota duaan itu langsung berhubungan satu sama lain dan juga dengan pihak ketiga. Atau contoh lain, misalnya suami istri berhubungan satu sama lain, dan juga mempunyai ikatan bersama terhadap anak-anaknya. Karena alasan inilah, anak-anak sering merupakan faktor yang memperkuat perkawinan, artinya mereka memberikan suatu ikatan tambahan lagi pada kedua pasangan itu.

Hubungan keempatan atau lebih :

Dengan adanya tambahan orang lebih banyak lagi dalam suatu hubungan yang diperluas seperti hubungan keempatan, merupakan suatu kelompok yang terdiri dari empat orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang persis sama. Kelompok yang terdiri dari lima orang adalah kelompok yang paling kecil dimana dapat terjadi pembentukan koalisi dengan ukuran yang tidak sama.

Karena kelompok tumbuh menjadi lebih besar, kemungkinan pembentukan sub kelompok internal itu bertambah besar. Kalau hal ini terjadi bentuk-bentuk sosial yang sesuai dengan jumlah yang terdapat dalam berbagai sub kelompok itu akan menjadi dominan.

“ Kapitalisme & Protestantisme ”

Oleh : Wenny liztia

Topik : Kapitalisme & Protestantisme

A. Bagaimana hubungan antara semangat kapitalisme dan etika protestantisme bagi perkembangan kapitalisme

B. Apakah ada semacam etika protestan dalam agama Islam

A. Bagaimana hubungan antara semangat kapitalisme dan Etika Protestantisme bagi perkembangan Kapitalisme

Hubungan antara etika protestantisme dan pertumbuhan sistem ekonomi kapitalis merupakan sumbangan Weber yang paling terkenal. Etika protestan mencerminkan dan memperbesar kecenderungan bertambahnya rasionalitas, dan melihatkan peran yang penting dimana ide-ide agama berperan dalam meningkatkan perubahan sosial. Weber menekankan bahwa orang mempunyai kepentingan ideal dan juga materil. Kepentingan ideal dapat mempengaruhi motivasi manusia secara independen, walaupun kadang-kadang bertentangan dengan kepentingan materilnya. Ia merasa perlu mengakui pengaruh timbal balik antara kepentingan ideal dan kepentingan materil dan menentukan secara empiris dalam kasus individu, apakah kepentingan materil atau ideal itu yang dominan.

Dalam bukunya “The Protestant ethic and the spirit of capitalism” menjelaskan bahwa : aspek-aspek tertentu dalam etika protestan merupakan perangsang yang kuat dalam meningkatkan pertumbuhan syistem ekonomi kapitalis dalam tahap-tahap pembentukannya. Pengaruhnya ini yang disebut dengan “Elective Affinity” yaitu konsistensi logis dan pengaruh motivasional yang mendukung secara timbal balik antara tuntutan etis tertentu yang berasal dari kepercayaan protestan dan pola-pola motivasi ekonomi yang perlu untuk pertumbuhan sistem kapitalisme.

Weber tidak mengatakan bahwa kapitalisme disebabkan oleh protestantisme ataupun adanya hubungan sebab akibat, hanya saja konsep ini berhubungan dengan kesesuaian logis dan konsistensi psikologis dimana keduanya saling mendukung. Dengan adanya elective affinity antara etika protestan dan semangat kapitalisme berarti bahwa jenis motivasi yang timbul karena menerima kepercayaan itu dan tuntutan etis protestantisme membantu merangsang jenis perilaku yang dibutuhkan atas lahirnya kapitalisme borjuis modern. Protestantisme maupun kapitalisme merupakan suatu pandangan yang rasional dan sistematis.

Etika Protestan memberi tekanan pada usaha menghindari kemalasan atau kenikmatan semaunya dan menekankan kerajinan dalam melaksanakan tugas dalam semua segi kehidupan, khususnya dalam pekerjaan dan kegiatan ekonomi pada umumnya. Sedangkan Kapitalisme modern menuntut untuk membatasi kosumsi supaya uang yang ada itu di investasi kembali dan untuk pertumbuhan modal, menuntut kesediaan untuk tunduk pada disiplin perencanaan yang sistematis untuk tujuan-tujuan dimasa mendatang, bekerja secara teratur dalam suatu pekerjaaan, dan sebagainya. Maka dapat disimpulkan bahwa etika protestan merangsang atau mendorong kapitalisme namun bukanlah ini merupakan satu-satunya faktor, walaupun ia memang mementingkan faktor tersebut namun faktor lain juga sangat penting termasuk didalamnya kondisi-kondisi materil dan kepentingan-kepentingan ekonomi.

Meskipun Weber menekankan pengaruh protestantisme pada perkembangan kapitalisme, kiranya ia tidak menyangka bahwa protestantisme juga dipengaruhi oleh pertumbuhan kapitalisme. Keseluruhan pendekatannya menekankan bahwa kepentingan ideal dan materil mengatur tindakan orang lain, dan bahwa hubungan antara ideal agama dan kepentingan ekonomi sebenarnya bersifat timbal balik, termasuk saling ketergantungan antara protestantisme dan kapitalisme.

Pengaruh protestantisme pada kapiptalisme tidaklah untuk selamanya, pandangan bahwa protestantisme membantu merangsang munculnya kapitalisme pada tahap-tahap awalnya tidaklah berarti bahwa kapitalisme itu seterusnya membutuhkan legitimasi agama, sesudah kapitalisme itu berdiri, ia akan menjadi otonom dan berdikari tanpa membutuhkan dukungan dari agama lagi. Oleh karena itu, perkembangan kapitalisme saat ini benar-benar murni karena faktor materialistik bukan karena pengaruh agama apapun sehingga agama protestan dan katolik sekarang tidak lagi memperlihatkan perbedaan yang berarti dalam aspirasi dan prestasinya. Jadi hubungan protestantisme dengan kapitalisme dapat dilihat sebagai sesuatu yang bersifat “dialektik” yang mana protestantisme membantu pertumbuhan kapitalisme pada awalnya, tetapi akhirnya dirusak/ diganggu oleh pengaruh kapitalisme yang benar-benar sekuler.

Kapitalisme modern adalah hasil akhir dari proses rasionalisasi, yang berakar dalam pengaruh historis dari tradisi intelektual spesifik. Dalam pandangan Weber peranan pemimpin agama dalam mempromosikan berbagai macam ide dan orientasi pada berbagai masyarakat sangatlah penting. Misalnya, pendeta Buddha menarik diri dari semua kegiatan keduniaan untuk mencapai tingkat spiritual tertinggi, sedangkan Konfusius mandarin menggunakan basis pengetahuan yang sangat tradisional dan teks non ilmiah. Hanya di Barat muncul orientasi kultural yang mengedepankan rasionalisasi, sehingga pada masyarakat non barat perkembangan ilmiah, kesenian, poltik maupun ekonomi tidak mengikuti jalur rasionalisasi yang unik di Barat.

Keterkaitan antara protestantisme dengan kapitalisme yaitu agar kapitalisme bekerja, modal harus di akumulasi, tidak untuk dikonsumsi melainkan harus diinfestasikan kembali untuk mengembangkan teknik-teknik produksi yang lebih efisien demi memperoleh keuntungan yang lebih besar.

B. Apakah ada semacam Etika Protestan dalam agama Islam

Menurut saya, ajaran yang termuat dalam etika protestan yang mengajaran kebaikan dalam diri umatnya juga terdapat dalam agama Islam. Islam juga tidak berbeda ajarannya dengan protestan, Islam juga mengajarkan keseimbangan duniawi, disiplin, hidup tidak boros, mubazir dan selalu berusaha keras untuk mendapatkan perubahan nasib di dunia sehingga tercapainya kesejahteraan, akan tetapi pandangan materialistik yang kuat dan berlebihan pada etika protestan memang tidak ada di ajaran agama Islam. Islam tidak pernah mengenal istilah”memperanakan uang” atau sejenisnya yang mana modal hanya dapat di investasikan bagi pengusaha-pengusaha besar saja sehingga dapat menimbulkan keuntungan sepihak karena munculnya usaha-usaha raksasa bagi pemilik modal yang kuat saja, sedangkan bagi pengusaha kecil itu dianggap tidak begitu penting.

Etika protestan memperlihatkan suatu orientasi agama yang bersifat asketik dalam dunia (inner worldly) yang jauh lebih lengkap dari pada agama besar apapun. Asketisme dalam dunia (inner worldly asceticism) menunjuk pada komitmen untuk menolak kesempatan ( sangat membatasi diri ) untuk menuruti keinginan fisik atau inderawi, atau kenikmatan yang bersifat spiritual, tujuan spiritual itu harus dicapai melalui sutu komitmen yang sistematis dan rajin dalam melaksanakan tugas didunia ini.

Etika protestan menekankan suatu gaya hidup dimana kenikmatan iderawi dan materil dikontrol dengan teliti dan sistematis, dipandang dari segi apaun orientasi mereka yang bersifat inner worldly itu tidak ada hubungannya dengan hedonisme ( yang suka akan kesenangan saja), sebaliknya agama protestan disaat-sat awalnya sangat sadar bahwa menuruti keinginan hawa nafsu badaniah dapat mengalihkan perhatian orang dari kehidupan spritualnya, dan merupakan ancaman terus menerus bagi jiwa.

Gambaran dari umat protestan ini adalah orang yang sangat setia pada tugas pekerjaannya yang diliht sebagai tugas agama, dan demikian pula mereka yang secara sistematis mendisiplikan kehidupannya untuk mengontrol keinginan fisik dan nafsunya.

Intinya, jenis pola motifasi yang dibutuhkan untuk membangun kapitalisme dari ajaran etika protestan yaitu kesetiaaan pada tugas-tugas pekerjaan, membatasi konsumsi, dorongan prstasi yang kuat, dan gaya hidup yang sangat rasional dan sistematis merupakan elemen-elemen yang terdapat baik dalam protestantisme maupun dalam kapitalisme.

Etika protestan juga mengajarkan bahwa ide-ide masa lalu yang mengatakan bahwa uang tidak dapat menghasilkan uang ditampiknya dengan keras, malahan usaha-usaha ekonomi dapat berkembang dan meluas jika adanya usaha memperanakkan uang, yaitu kalau bunga dikenakan pada pinjaman orang miskin untuk mempertahankan hidupnya dapat dilihat sebagai bentuk eksploitasi, akan tetapi jika bunga atas pinjaman yang dikenakan pada pedagang usaha untuk memperanakkan uang itu maka dapat diterima sehingga akibatnya adalah terbukanya kemungkinan baru untuk akumulasi modal dan membiayai usaha-usaha raksasa melalui kredit, semuanya dilihat dalam kerangka etika protestan.

“ Max Weber ”

Oleh : Wenny liztia

Topik : Max Weber

A. Bagaimana konteks biografi dan sosial dari Max Weber ? Jelaskan secara singkat!

B. Apakah itu tindakan sosial ? jelaskan beserta contoh sendiri!

C. Apa hubungan tindakan sosial dan makna ?

D. Apa itu makna ? ada berapa jenis makna? Bagaimana memahami makna?

A. Bagaimana konteks biografi dan sosial dari Max Weber? Jelaskan secara singkat!

Konteks biografi

Nama : Max Weber

Tempat / Tgl lahir : Erfurt , Thuringia 1864

Agama : Protestan

Pendidikan : Jrsn. Hukum Univ. Berlin & Jrsn. Ekonomi Univ. Freiburg

Karier : Pengacara & Pengajar di Univ. Berlin

Karya : a. Tendencies in the development of the situation of rural workers

In eastern germany ( 1894 )

b. The social cause of the decadence of ancient civilization ( 1894)

c. The protestant ethic and the spirit of capitalism ( 1904 )

d. Essay on some categories of comprehensive sociology ( 1913 )

e. The economie ethich of universal religions ( 1915 )

f. The sociology of religion ( 1916 )

g. Economy and society ( 1919 )

Meninggal dunia : Munich, 1920

Konteks sosial :

Max Weber adalah putra Jerman yang lahir dari keluarga yang cukup berada, ayahnya seorang hakim sedangkan ibunya adalah penganut protestan yang sangat taat. Semenjak Weber beranjak dewasa sangat banyak terlihat baginya pertentangan antara ayah dan ibunya yang berujung dengan pertengkaran dan sampai pada akhirnya ayah dan ibunya harus pisah. Hal ini dipicu karena perbedaan sifat dan cara pandang mereka berdua yang berbeda satu sama lain. Ayah berwatak keras dan sering kali memperlakukan ibunya dengan sangat kasar sedangkan ibunya sangat baik dan taat beragama sehingga tidak jarang Weber memperhatikan keduanya bertengkar. Dalam kondisi seperti inilah Weber dibesarkan sampai akhirnya ia lebih membela ibunya dan sangat membenci ayahnya.

Ketika masih kecil Weber adalah seorang pemalu dan sering sakit, akan tetapi ia sangat jenius dan kritis. Ayahnya lebih memberikan prioritas pada kepentingan politik dan ekonomi sedangkan ibunya memprioritaskan kepada hal-hal yang ideal berhubungan dengan Etika Protestan. Weber menolak sikap ayahnya yang lebih banyak bersikap amoral dan mengarahkan prilakunya sesuai dengan ibunya.

Sedangkan kondisi struktur sosial dan politik di Jerman pada masa Max Weber sangatlah tegang dan penuh kontradiksi seperti halnya dengan kehidupan keluarganya. Karena kepentingan politik yang mendalam dan semangat nasional sehingga ketegangan dan kontradiksi ini sangat mempengaruhi perjuangan batin Weber.

B. Apakah itu Tindakan Sosial ? Jelaskan beserta contoh sendiri!

Tindakan sosial adalah tindakan seseorang yang dapat mempengaruhi orang lain tergantung rasionalitas dari perbuatan orang tersebut. Tindakan sosial merupakan kajian Weber terhdap sosiologi. teori ini bertentangan dengan teori fungsionalis. Menurutnya dunia terwujud karena “Tindakan Sosial”. Manusia melakukan sesuatu karena mereka memutuskan untuk melakukan itu untuk mencapai apa yang mereka kehendaki. Setelah memilih sasaran, mereka memperhitungkan keadaan kemudian memilih tindakan.

Memahami reaitas sosial yang dihasilkan oleh tindakan itu berarti menjelaskan mengapa manusia menentukan pilihan. Metode yang dikembangkan oleh Weber adalah Verstehen, karena menurutnya sosiologi juga adalah manusia yang mengapresiasi lingkungan sosial dimana mereka berada, memperhatikan tujuan-tujuan warga masyarakat yang bersangkutan dan oleh sebab itu berupaya memahami tindakan mereka, sehingga konsep inilah yang dapat membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan ilmu sosial.

Perhatian Weber pada teori tindakan sosial berorientasi pada tujuan dan motivasi pelaku. Memang ada kesamaan pandangan Weber ini denga Marx dalam memperhatikan lintasan besar sejarah dan perubahan sosial mereka yakin bahwa cara terbaik untuk memahami berbagai masyarakat adalah menghargai bentuk-bentuk tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya. Tetapi berbeda dari Marx yang memandang tugas mereka adalah mengungkapkan kecenderungan dalam kehidupan sosial manusia, Weber menolak pandangan tersebut. Weber melakukan rekonstruksi “Makna” dibalik kejadian sejarah yang menghasilkan struktur-struktur dan bentukan-bentukan sosial, tetapi pada saat yang sama memandang semua konfigurasi kondisi historis itu unik.

Untuk memahami tindakan sosial harus dimegerti dalam hubunganya dengan arti subjektif yang terkandung didalamnya. Orang perlu mengembangkan suatu metode untuk mengerti dan mengetahui arti subjektif secara objektif dan analistis.

Rasionalitas merupakan konsep dasar yang digunakan Weber dalam klasifikasinya mengenai tipe-tipe tindakan sosial. Pembeda pokok yang diberikan adalah antara tindakan rasional dan yang non rasional. Singkatnya, tindakan rasioal berhubungan dengan pertimbangan yang sadar dan pilihan bahwa tindakan itu dinyatakan.

Tipe-tipe tindakan sosial :

1. Tindakan tradisional

Contoh : seorang ibu mengadakan mendoa 100 hari meninggal suaminya dengan mengundang kerabat dan tetangga.

2. Tindakan afektif

Contoh : seorang anak berteriak dan menangis sekeras mungkin untuk meminta bantuan karena ia terjatuh dari sepeda.

3. Tindakan berorientasi nilai

Contoh : pemilik angkot mempermak dan memberikan aksesoris yang unik dan lucu pada angkotnya untuk menjadikan tampilan mobilnya dapat dilirik banyak penumpang dengan nilai keindahan yang dia yakini dapat meningkatkan penghasilannya.

4. Tindakan berorientasi tujuan

Contoh : seorang guru yang berdandan maksimal, berpakaian menarik dan rapi untuk siap mengajar di kelas.

C. Apa hubungan tindakan sosial dan makna ?

Semua tindakan sosial memiliki makna, Weber mengatakan bahwa tindakan sebagai sebuah prilaku yang bermakna secara subjektif yang masih memerlukan penjelasn lagi. Hubungan tindakan sosial dan makna yaitu dengan maknalah kita dapat mengetahui apa motif dari tindakan sosial yang dialkukan seseorang. Tindakan sosial yang dilakukan seseorang akan dapat kita pahami atas makna yang ia berikan atas tindakan yang dilakukannya tersebut, baik tindakan itu berdasarkan rasionalitas atau tidak. Manusia akan selalu bertindak sebagai agen yang menjalankan realitas kehidupan sosial, oleh karena itu cara mereka melakukan tindakan tergantung kepada cara mereka memahami atau memberikan makna terhadap prilaku mereka sendiri.

Dengan mempelajari sosiologi kita akan dapat mengamati cara seseorang melakukan penafsiran, memberi makna terhadap realitas. Maka makna yang dimaksud disini adalah makna partisipan yang melakukan konstruk melalui satu proses partisipasi dalam kehidupan dimana ia hidup.

Weber Dalam membangun teori sosiologinya menjadikan individu sebagai pusat dalam kajiannya. Ia melihat bagaimana individu menjalin dan memberi makna terhadap hubungan sosial dimana individu menjadi bagian didalamnya. Oleh karena itu, Weber mengatakan bahwa sosiologi sebagai ilmu yang mengusahakan pemahaman interpretatif mengenai tindakan sosial dengan pendekatan Verstehen, agar dengan cara itu dapat menghasilkan sebuah penjelasan kausal mengenai tindakan sosial dan akibatnya.

D. Apa itu makna ? ada berapa jenis makna? Bagaimana memahami makna?

Makna adalah dasar pemahaman seseorang atas perbuatan yang akan ia lakukan sehingga dijadikan tujuan oleh seseorang dalam melakukan suatu tindakan sosial tertentu. Setiap tindakan sosial akan dapat kita mengerti apa maksud dan tujuannya melakukan perbuatan tersebut jika kita menggunakan pendekatan verstehen dan mengetahui apa pemaknaan yang diberkan oleh sipelaku atas tindakan tersebut. Dengan itu kita dapat memahami dan mengerti dengan jelas motif pelaku melakukan sebuah tindakan. Makna terdiri atas makna objektif dan subjektif.

Memahami makna yaitu dengan menggunakan pendekatan “Verstehen” yang telah dikemukakan oleh Max Weber. Dengan membuat diri kita dapat merasakan dan memposisikan diri layaknya sipelaku , maka kita akan dapat mengetahui makna dan tujuan seseorang melakukan tindakan sosial tersebut.

Proses pemaknaan berawal dari arus pengalaman (stream of experience) yang berkesinambungan yang diterima oleh panca indera. Arus utama dari pengalaman inderawi sebenarnya tidak punya arti tetapi ia aka ada dengan begitu saja. Objek-objeklah yang bermakna, mereka memiliki kegunaan-kegunaan, nama-nama, bagian-bagian yang berbeda dan mereka memberi tanda tertentu. Pengidentifikasian dari dunia pengalaman inderawi yang bermakna inilah yang terjadi didalam kesadaran individu secara terpisah dan kemudian secara kolektif, didalam interaksi antara kesadaran-kesadaran. Bagian ini adalah satu bagian dimana kesadaran bertindak atas data inderwai yang masih mentah, untuk menciptakan makna didalam cara yang sama, sehingga bisa melihat sesuatu yang bersifat mendua dari jarak itu, tanpa masuk lebih dekat, mengidentiikasinya melalui suatu proses dengan menghubungkan dengan latar belakangnnya.

“Bunuh Diri”

Oleh : Wenny liztia

Topik : Bunuh Diri Menurut Emile Durkheim

A. Pernakah mendengar, membaca atau melihat peristiwa Bunuh Diri ? Apa kira-kira yang menjadi penyebabnya?

B. (1) Tipe Bunuh Diri menurut Emile Durkheim.

(2) Bagaimana dengan peristiwa bunuh diri di Indonesia, apakah semua tipe bunuh diri dari Durkheim terdapat dalam semua peristiwa yang ada. Jika tidak, tipe bunuh diri apa yang tidak ditemukan di Indonesia? Kenapa demikian?

A. Pernakah mendengar, membaca atau melihat peristiwa Bunuh Diri ? Apa kira-kira yang menjadi penyebabnya?

Bunuh diri memang peristiwa yang walaupun tidak sering saya dengar akan tetapi tetap ada pada satu waktu tanpa disangka dan diduga kedatangannya. Saya pernah melihat peristiwa ini di televis, korban bunuh diri yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Dari yang saya lihat menghabisi diri sendiri banyak disebabkan karena faktor ‘kekecewaan’ yang mendalam dari diri seseorang akibat kelalaian atau kenyataan yang tak dapat diterima oleh dirinya sendiri. Banyak diantara mereka yang kecewa karena ditinggal orang yang dicintai dan juga tidak sedikit penyebabnya karena ia tidak mampu menahan penderitaan hidup karena faktor ekonomi.

Bunuh Diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat mengakhiri kehidupan dan merupakan keadaan darurat psikiatri karena individu berada dalam keadaan stres yang tinggi dan menggunakan koping yang maladaptif. Bunuh diri merupakan tindakan merusak integrasi diri atau mengakhiri kehidupan, di mana keadaan ini didahului oleh respon maladaptif dan kemungkinan keputusan terakhir individu untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Dalam buku berjudul “Bunuh Diri” yang diterbitkan tahun 1897, sosiolog Perancis Emile Durkheim menjelaskan secara sosiologis tentang fenomena bunuh diri. Menurutnya, fenomena bunuh diri yang secara tradisonal di kalangan masyarakat dianggap hanya sebagai masalah pribadi, harus dipandang dan dianalisis dalam keseluruhan struktur sosial. Bunuh diri banyak disebabkan karena perasaan cemas, depresi, atau psikotik.

Saat ini, bunuh diri dianggap sebagai fenomena penyakit sosial yang harus dicegah oleh negara dan masyarakat. Di Korea, jumlah pelaku bunuh diri terus meningkat yakni pada tahun 2007 jumlah kasus kematian akibat bunuh diri menempati ranking ke-4 setelah kanker, penyakit pembuluh darah otak, dan penyakit jantung.

Tahun

2003

2004

2005

2006

2007

Jumlah bunuh diri

10.869

11.894

13.268

12.736

13.036

B. (1) Tipe Bunuh Diri Menurut Emile Durkheim

Ada 3 tipe Bunuh diri yang dikemukakan Durkheim, yaitu :

1. Bunuh diri Egoistis

Egois adalah skap seseorang yang tidak berintegrasi dengan grupnya, yaitu keluarga, rekan, kumpulan agama dan sebagainya dan hidupnya tidak terbuka dengan orang lain. Ia hanya memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri, tidak memperhatikan kebutuhan orang lain atau masyarakat. Biasanya manusia seperti ini tidak memiliki tujuan hidup dalam hidup selain kepentingannya sendiri. Jika orang ini mengalami krisis ia tidak akan menerima bantuan moral dari grupnya, sebab ia merasa sendirian, tanpa relasi, berada diuar grupnya. Keadaan tersudut ini yang disebabkan oleh egoisme yang berlebihan, dapat mengakibatan yang bersangkutan bunuh diri.

Jika dibandingkan waktu revolusi atau perang, angka kasus bunuh diri menurun. Hal ini disebabkan Karena waktu itu solidaritas kekompakan grup dan integrasi anggotanya bertambah besar.

Bunuh diri egoistis adalah tindakan yang dilakukan terutama disebabkan oleh egoisme yang tinggi pada orang yang bersangkutan. Egoisme adalah sikap individu yang tidak berintegrasi dengan grupnya, kelompoknya, kumpulannya, kumpulan agama dan sebagainya. Kalaupun ia berada dalam sebuah grup ia tidak total berada di dalamnya. Hidupnya tertutup untuk orang lain. Ia mengalienasi diri. Ia terutama memikirkan dan mengusahakan kebutuhannya sendiri. Tujuan hidupnya demi kepentingan dirinya sendiri.

Orang yang egoismenya tinggi ketika mengalami krisis tidak bisa menerima bantuan moral dari grupnya. Ia sendirian, tanpa relasi dan berada di luar grupnya. Kesendirian dan kesepiannya tak teratasi. Dunia menjadi gelap. Ia dengan mudah terjerumus oleh sikapnya yang sudah egois untuk mengakhiri hidupnya. Orang yang egois cenderung untuk melihat segala sesuatu dari ukurannya sendiri.

2. Bunuh diri Altruistis

Bunuh Diri altruistis adalah tindakan bunuh diri dengan penyebabnya kebalikan dari penyebab bunuh diri egoistis. Pada kasus ini, orang yang bersangkutan menyatukan diri dengan nilai-nilai grupnya dan begitu berintegrasi sehingga diluar itu ia tidak memiliki identitas. Pengintegrasian yang menyangkut seluruh hidup sesorang, memandang hidup diluar grup atau dalam pertentangan dengan grup sebagai tidak berharga. Maka kalau etikanya grup menuntut agar ia merelakan nyawanya demi suatu keyakinan atau kepentingan bersama, ia akan cenderung menyesuaikan diri dengan tuntutan itu. Contoh: kebiasaan kuno salah satu suku di India, dimana janda membiarkan dirinya dibakar bersama dengan jenazah suaminya. Hal ini dilaporkan bahwa mereka malah menentang pihak yang mau mencegah terjadinya hal itu. Ini merupakan salah satu contoh identifikasi diri secara menyeluruh dengan nilai-nilai kepercayaan dan kode kehormatan yang berlaku didalam grup.

Orang yang lebih suka mati syahid daripada menyangkal agamanya adalah contoh yang sama. Dikalangan tentara juga para perwira dan prajurit dibina supaya berani mati gugur demi keselamatan nusa dan bangsa.

Dari beberapa contoh diatas Emile Durkheim sengaja menyebutnya sebagai peristiwa bunuh diri, sebab kematian orangnya diakibatkan oleh sikap mental dan moral orang yang bersangkutan itu sendiri. Seandainya ia bermaksud menyelamatkan nyawanya ia hanya perlu melepaskan prinsipnya dan ikatan kesetiaannya pada grup.

Menurut Emile Durkheim, semakin besar pengintegrasian seseorang dengan grupnya, makin besar pula kecenderungannya kearah bunuh diri dan makin tinggi persentase kasus bunuh diri. Kalau seorang anggota yang berintegrasi kuat dengan grupnya, mengalami suatu hal yang membuat hidupnya dengan hormat tidak mungkin lagi didalam grup, ia akan lebih cenderung untuk mengakhirinya. Grup semacam ini adalah tentara.

Dalam grup ini, orang belajar untuk mengemudiankan kepentingan pribadi demi keselamatn keseluruhan. Setelah dilihat data statistiknya ternyata kalangan angkatan bersenjata lebih tinggi laju bunuh dirinya dibandingkan dari kalangann sipil, hal ini disebabkan karena orang militer hidupnya lebih berat dan lebih susah, hal inilah yang dibayangkan banyak orang sebagai faktor psikologis. Akan tetapi melihat kenyataan ini, Emile Durkheim berpandangan yang berbeda dengan kebanyakan orang yang memandang dari segi psikologi, akan tetapi asusmsinya mengatakan bahwa jusru lebih banyak perwira yang yang hidupnya lebih enak. Jadi menurut Durkheim fakor hidup susah tidak dapa dipakai tetapi lebih pada faktor sosial yang kemudian dikemukakannya bahwa perwira-perwira lebih berintegrasi dengan kesatuan militer mereka. Dengan data statistik yang ada Durkheim mengatakan bahwa semakin lama seseorang menjadi anggota militer makin besar kemungkinan akan bunuh diri.

Kasus bunuh diri ini bisa dijumpai pada peristiwa bunuh diri massal sebuah aliran kepercayaan misalnya di Guyana pada tahun 1990-an. Pengorbanan diri (self-sacrifice) sebagai bentuk peran serta sosial dan untuk mendapatkan penghargaan dari masyarakat, dan contoh lainnya yaitu kamikaze atau seppuku di Jepang. Tipe ini disebut juga “Formalized suicide”

3. Bunuh Diri Anomis

Anomi adalah kekaburan norma dan tanpa moral. Anomi merupakn keadaan moral dimana orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan, dan norma dalam hidupnya. Nilai-nilai yang semula memberi motivasi dan arah kepada pelakunya tidak berpengaruh lagi. Berbagai kejadian dapat menyebabkan keadaan itu. Musibah yang menimpa orang hingga semuanya yang pernah menyemangati dan menertibkan sudah musnah dan mengakibatkan suatu perubahan yang radikal. Misalnya, orang yang seluruh tenaga hidupnya dikerahkan untuk kesejahteraan keluarganya atau keberhasilan dalam karier atau pengumpulan harta lalu menderita musibah, hal ini tidak hanya akan mengalami krisis emosional berupa tekanan batin (gejala psikis) tetapi juga akan mengalami krisis nilai. Tidak hanya musibah saja yang dapat menyebabkan anomi, tetapi keuntungan besar atau tercapainya cita-cita dapat membawa efek yang sama. Satu kali orang-orang memperoleh hal yang didambakannya seperti gelar dan jabatan lalu ia menjadi lain dari dahulu. Orang yang dikenal karena hidup sederhana dan hemat serta bekerja keras dan berdisiplin penuh inisiatif dan kreativitas dengan tiba-tiba goyah apabila ia menjadi kaya atau mencapai apa yan diharapkannya. Nilai-nilai dan tujuan yang lama nampaknya tidak relevan lagi dan tidak memaksa lagi.

Anomi ini juga dapat terlihat pada orang yang dibebastugaskan. Mereka gelisah keculai kalau mereka mempunyai sumber nilai-nilai yang mampu memberi arti dan arah kepada hidupnya.

Keadaan anomi dapat melanda seluruh masyarakat yang disebabkan karena perubahan sosial yang sangat cepat. Dari persentase data statistik kejadian bunuh diri lebih tinggi diantara orang yang kehilangan teman hidup atau anak mereka. Memang perkawinan dan keluarga harus dilihat sebagai sarana penertib yang ampuh yang membantu orang yang bersangkutan untuk bekerja dengan tertib dan tekun, hidup teratur dan menentang egoisme.

Orang merasa dirinya diikat oleh norma-norma dan tujuan-tujuan tertentu dan ikatan itu membantu dia untuk mengatasi kelemahan moral pribadi. Sifat memaksa yang menandai tiap-tiap lembaga kemasyarakatan amat menonjol pada perkawinan dan keluarga. Maka apabila perkawinan itu diakhiri dengan tiba-tiba maka munculah ‘vakum sosial’, dimana orang merasa dirinya tidak berdaya lagi. Bisa dikatakan bahwa masyarakat mungkir atau mengundurkan diri darinya.

Kekosongan ini dapat mengakibatkan kebingungan, ketidakterarahan, demoralisasi dan juga bunuh diri. Disini tampak keunggulan agama yang memberi individu nilai-nilai dan norma-norma yang tidak semata-mata tergantung dari suatu kehidupan berjasad didunia ini atau bersifat sementra.

Agama mengajarkan orang untuk menghayati hidup mereka dalam cakrawala yang lebih luas, sekalipun orang mengalami perubahan situasi atau iklim budaya, ia akan tetap membina semangat dan motivasi dari keyakinan-keyakinan dan norma-norma religius yang sama. Inilah keuntungan agama yang tidak megidentifisir diri dengan salah satu bentuk kebudayaan partikuler, tetapi bercorak universal dan nontemporer. Sampi saat ini rasanya ilmu belum bisa menggantikan sebuah agama.

Durkheim melakukan penyelidikan atas akibat dari status perkawinan. Ia menemukan bahwa selisih laju membunuh diri antara orang kawin dengan orang tidak kawin berlainan dinegara-negara. Ada Negara dimana perbedaan itu besar dan ada dinegara lain dimana perbedaan itu amat kecil. Kenapa adanya perbedaan seperti ini, ternyata ia menemukan bahwa hal itu ada hubungannya dengan undang-undang perkawinan yang berlaku dinegara itu .

Dimasyarakat-masyarakat dimana orang dapat bercerai agak mudah status kawin tidak terlalu mengekang dan orangya tidak mendapat pertolongan dari status mereka. Disinilah perkawinan tidak merupakan faktor yang berarti, yang memainkan peranan dalam mengatasi kesulitan. Dimana perceraian sukar atau tidak diizinkan sama sekali , perkawinan rupanya memberi perlindungan yang amat besar terhadap bahaya bunuh diri.

Durkheim menarik kesimpulan bahwa kemungkinan bercerai merusak sifat regulatif perkawinan, kalau orang dapat memperoleh akte cerai dengan mudah, orang yang mengalami kesulitan keluarga, selalu memperhitungkan kemungkinan untuk mengakhiri perkawinan mereka, dan mencari pemecahan diluar. Tetapi kalau perceraian tidak mungkin, mereka akan dikekang dan dipaksa oleh peraturan yang berlaku . Mereka menerima saja pembatasan-pembatasan berkenaan dengan perkawinan dan berusaha untuk menyelesaikan kesulitan intern mereka, atau mereka tidak mampu dan mengambil tindakan nekad walaupun persentase orang seperti ini sangat kecil.

Dalam studi suicide keintegrasian orang dalam masyarakat atau kelompok itulah fakta sosial yang menerangkan fakta sosial lain yaitu bunuh diri. Keintegrasian itu dipandang seperti suatu benda atau faktor. Begitu juga halnya dengan disintegrasi. Disintegrasi dipandang Durkehim sebagai keadaan dimana orang tidak ikut serta dalam menghayati dan mengamalkan nilai-nilai masyarakat atau kelompok sehingga ikatannya melemah.

(2) Bagaimana dengan peristiwa Bunuh Diri di Indonesia, apakah semua tipe bunuh diri dari Durkheim terdapat dalam semua peristiwa yang ada. Jika tidak, tipe bunuh diri apa yang Tidak ditemukan di Indonesia. Kenapa demikian.

Bunuh diri yang terjadi di Indonesia lebih banyak dikarenakan faktor ekonomi, Ketidakmampuan atau kemiskinan. Ketidakberdayaan ekonomi ini membuat orang putus asa dan tidak sedikit diantaranya yang mengambil jalan pintas untuk mengakhiri hidup mereka agar dapat keluar dari penderitaan yang melandanya.

Hampir tipe bunuh diri yang dikemukakan oleh Durkheim dialami juga di Indonesia. yang akhir-akhir ini menjadi isu hangat tipe bunuh diri altruistic banyak dipakai oleh kalangan orang yang menganggap dirinya sebagai kalangan militant islam atas nama jihad.

Adapun tipe bunuh diri yang tidak ditemukan di Indonesia adalah tipe

a. Meniru tokoh terkenal dalam melakukan tindakan yang sama

b. Agar terkenal di Website.

Bunuh diri seperti ini banyak terjadi di Negara barat karena alasan ingin dikenang di halaman website suatu jaring social. Di suatu kota di welsh town, wales, terjadi Fenomena yang membingungkan aparat kepolisian, yaitu adanya serangkaian kasus bunuh diri oleh 6 remaja. Polisi menduga ini ada kaitan dengan kebiasaan sang korban bunuh diri dengan sebuah online social networking Beebo. Bridgend MP Madeleine Moon mengatakan bahwa bunuh diri diduga oleh motivasi remaja tersebut dalam mendapatkan perhatian besar di kalangan teman-teman sebayanya agar namanya masuk dalam halaman memorial pages. Halaman online memorial pages diakses oleh jutaan remaja diseluruh dunia. Kasus terakhir adalah meninggalnya Natasha Randall 17 tahun. Dia diketemukan tewas gantung diri dikamarnya minggu lalu. Dalam kurun waktu 24 jam, 2 teman dekatnya diketahui juga berusaha bunuh diri, akan tetapi berhasil diselamatkan oleh keluarganya. Kepolisian wales mengadakan penyelidikan pada komputer Natasha, dan diketahui bahwa natasha pernah mengirimkan pesan ke Liam Clark 20 tahun (Liam Clark adalah orang kelima di welsh town yang melakukan bunuh diri).